Rabu, 09 Januari 2013

Rasa yang Abstrak (Part 1)


Bismillahirrahmanirrahiim…

Segala puji bagi Allah yang selalu melimpahkan rahmatNya kepada hamba :’)

Hari ini tepatnya Rabu, 9 Januari 2013 tak terasa sudah 3 hari sekolah setelah 3 bulan melaksanakan prakerin di Kantor Akuntan Publik Roebiandini dan alhamdulillah mendapat hasil yang baik atas kerja keras selama disana. Kini aku pun kembali menjalani aktivitas ku seperti biasa yaitu sekolah dan menuntut ilmu dengan baik di SMKN 1 Bandung.

Akan tetapi, pada 7 Januari 2013 bertepatan dengan kembalinya aku ke sekolah entah kenapa aku kurang fokus saat belajar, pikiranku terpecah belah antara ujian-ujian yang akan aku tempuh nanti dan seketika itu pula ingatan ku kembali pada ‘masa lalu’ yang sebenarnya tak ingin aku ingat kembali.

Hidup ku sepertinya tidak ter-manage dengan baik dan itu menjadi faktor yang membuat ku terlalu sering murung, sedih, bahkan mudah sakit hati. Hal ini membuatku terganggu, tidak nyaman, bahkan membuat aku stress dan depresi. Padahal aku tahu sebenarnya ini tak bagus untuk kesehatanku.

Aku sering baca-baca bahwa kalau kita depresi ini akan berdampak buruk pada kesehatan kita dan itu memang benar terjadi padaku dan puncaknya adalah hari ini aku merasa drop sekali walaupun ketika dikelas teman-teman pasti tidak akan sadar bahwa aku sedang sakit, hanya teman sebangku saja yang tahu bahwa aku sedang sakit tapi dia pun mungkin hanya berpikir “tidak enak badan biasa” tapi sebenarnya saat itu aku bukan hanya sakit badan saja melainkan hati ini yang terlalu ‘abstrak’ untuk dijelaskan (hmm ini kesannya mellow banget yaa? Biarin deh hehe) ya sekali lagi aku tekankan mereka tidak sadar bahwa aku sedang ‘sakit’. Teman-teman melihatku biasa saja dan seperti tidak terjadi apa-apa, entah mereka yang kurang peka terhadap apa yang aku rasakan atau mungkin aku yang terlalu baik berakting dihadapan mereka seolah-olah tidak ada hal buruk terjadi padaku.

Ya inilah aku yang tak biasa menceritakan masalahnya pada orang-orang bahkan orang yang terdekat sekalipun. Curhat ke Ibu pun aku jarang. Aku susah harus bercerita seperti apa, bagaimana, dan darimana dimulainya. Permasalahan ku terlalu panjang dan berlarut-larut.

Sempat terpikir ingiiiiiiiin sekali rasanya bisa curhat, seperti teman-teman yang suka menceritakan masalahnya kepada ku, dan ibu pun sering menceritakan masalahnya pada ku. Bahkan aku juga sempat jadi pikiran karena sering tidak bisa memberikan solusi terhadap masalahnya dan saat itu yang ku lakukan hanya berdoa diberikan jalan yang terbaik untuknya (itupun hanya dalam hati) tak bisa aku utarakan kepada mereka, aku hanya bisa men-support lewat doa

Hmm..
Apa daya kalau emang gak bisa ya mau digimanain lagi? (Bukan gak bisa tapi sulit) :’)
Mungkin kalian bertanya-tanya “emang ada apa sih dengan kamu yang dulu? Perasaan baik-baik aja”



Bosen ya liat artikel ini? Udah deh jangan dilanjut, yang ada makin garing nanti, udah di-close aja yaa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar